Tuntunan Praktis
Perjalanan Ibadah Haji

Keutamaan Madinatul Rasul

Abdul Basit bin Abdul Rahman dalam bukunya “Al-Madinah Al-Munawarah Fadhailuha Watarikhuha” mengemukakan bahwa Madinah terletak di tengah-tengah padang pasir yang subur. Di sebelah barat laut dikelilingi bukit Silaa’, di sebelah selatan adalah bukit E’ir dan Wadi Al Aqiq, sebelah utara adalah Jabal Uhud, Jabal Tsur dan Wadi Qanat. Di sebelah timur adalah kawasan Tanah Hitam (Harrah) Waqim Asy-Syariyyah dan di sebelah barat adalah Harrah Wabrah Al-Gharbiyyah.

Rasulullah menjadikan Madinah sebagai tanah haram atau Tanah Suci setelah Makkah Al-Mukarramah. Dalam sebuah hadits riwayat Bukhari, Nabi Muhammad Saw. bersabda:


 أَنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لَهَا وَحَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَدَعَوْتُ لَهَا فِي مُدِّهَا وَصَاعِهَا مِثْلَ مَا دَعَا إِبْرَاهِيمُ عَلَيْهِ السَّلَام لِمَكَّةَ
(رَوَاهُ البُخَارِيّ)

وَفِى رِوَايَةٍ : اللَّهُمَّ اجْعَلْ بِا لْمَدِيْنَةِ ضِعْفَيْ مَا جَعَلْتَ بِمَكَّةَ مِنْ الْبَرَكَةِ

Sesungguhnya Nabi Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan berdo’a untuknya dan aku mengharamkan Madinah sebagaimana Nabi Ibrahim mengharamkan Makkah dan aku berdo’a untuk keberkatan Madinah baik dalam mud maupun sha’nya. Sebagaimana Nabi Ibrahim As. berdo’a untuk Makkah. Menurut sebuah riwayat : Ya Allah jadikanlah keberkahan Madinah dua kali lipat dari pada keberkahan yang Engkau jadikan bagi Makkah.

(HR. Bukhari)

Kemudian tentang keistimewaan atau kelebihan Madinah antara lain:

a. Jumhur Ulama seperti Imam Malik, Imam Syafi’i dan Ahmad menyatakan bahwa menangkap binatang buruan dan memotong pohon yang tumbuh di Madinah hukumnya haram, berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw.:  

وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ مَا بَيْنَ لَابَتَيْهَا لَا يُقْطَعُ عِضَاهُهَا وَلَا يُصَادُ صَيْدُهَا

(رَوَاهُ مُسْلِمٌ)

Dan aku mengharamkan Madinah di antara dua tanah hitamnya, jangan dipotong pohon-pohonnya dan jangan ditangkap binatang buruannya.

(HR. Muslim)

b. Ancaman melakukan kezaliman atau kemaksiatan di Madinah, sebagaimana hadits Nabi sebagai berikut:

عَنْ عَلِيٌّ بن أبي طالب قَالَ: قاَلَ النَّبِيُ صَلَّى الله عَلَيهِ وَسَلَّمَ :

الْمَدِينَةُ حَرَامٌ مَا بَيْنَ عَائِرٍ إِلَى ثَوْرٍ فَمَنْ أَحْدَثَ فِيهَا حَدَثًا أَوْ آوَى مُحْدِثًا فَعَلَيْهِ لَعْنَةُ اللَّهِ وَالْمَلَائِكَةِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ لَا يَقْبَلُ مِنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ صَرْفًا وَلَا عَدْلٌ.

(رَوَاهُ البُخَارِيّ و مُسْلِمٌ)

 Dari Ali bin Abi Thalib berkata : bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

Madinah adalah tanah haram, letaknya di antara bukit E’ir dan bukit Tsur. Barangsiapa yang melakukan kezaliman (kemaksiatan) di dalamnya, maka baginya laknat Allah, Malaikat dan manusia seluruhnya dan semua amal baiknya yang wajib maupun yang sunnah tidak akan diterima oleh Allah pada hari kiamat.

(HR. Bukhari dan Muslim)

c. Ketenangan hati orang-orang yang beriman apabila masuk kota Madinah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad Saw:

عَنْ أَبِيْ هُرِيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ :

إِنَّ الإيْمَانَ لَيَأْرِزُ إِلَى اْلمَدِيْنَةِ كما تأْرِزُ الْحَيَّةُ جُحْرِهَا

(رَوَاهُ البُخَارِيّ)  

Dari Abu Hurairah Ra. bahwa Rasulullah Saw. telah bersabda:

Sesungguhnya iman akan berkumpul di Madinah sebagaimana berkumpulnya ular ke sarangnya.

(HR. Bukhari)


Hadits ini tertulis dengan kaligrafi arab dari logam perak di samping mihrab Rasulullah Saw. dalam Masjid Nabawi.