Tuntunan Praktis
Perjalanan Ibadah Haji

Makkah

  1. Setibanya di Makkah ketua rombongan turun dari bus untuk mengambil kunci kamar jamaah.
  2. Jamaah haji turun dari bus dengan teratur dan menempati pemondokan, dipandu oleh petugas maktab dan dibantu PPIH (Panitia penyelenggara Ibadah Haji) Arab Saudi.
  3. Pemondokan di Makkah disediakan bagi jamaah haji untuk kurang lebih 28 hari berdasarkan hasil qur'ah (undian) di Tanah Air.
  4. Penempatan jamaah di pemondokan sesuai dengan tasrih (Pengesahan kapasitas dan kelayakan pemondokan yang ditetapkan oleh Pemerintah Arab Saudi), sehingga masing-masing kamar bervariasi kapasitasnya berdasarkan tasrih tersebut.
  5. Ketua regu dan ketua rombongan membantu dalam penempatan kamar agar jamaah haji laki-laki dan perempuan terpisah.
  6. Gedung yang ditempati jamaah haji semuanya bertingkat, gedung yang bertingkat 4 ada yang menggunakan lift dan ada yang menggunakan tangga. Sedang gedung yang lebih 4 tingkat menggunakan lift. Karena kapasitas lift terbatas, maka penggunaannya perlu antri, dianjurkan bagi jamaah haji yang fisiknya kuat naik tangga supaya tidak berdesak-desakan, sebelum menggunakan lift pelajari terlebih dahulu penggunaannya dan berhati-hati. Bagi gedung yang berkapasitas lebih dari 250 orang harus ada tangga darurat.
  7. Berhati-hati saat naik atau turun dengan tangga berjalan (eskalator) agar pakaian tidak tersangkut.
  8. Jangan memaksakan ziarah apabila kondisi kesehatan tidak memungkinkan.
  9. Pemondokan jamaah yang berada pada jarak lebih dari 2.000 meter disediakan transportasi dari pemondokan ke Masjidil Haram tanpa dipungut biaya. Pengangkutan dan penjemputannya diatur oleh petugas PPIH Arab Saudi.
  10. Apabila keluar dari pemondokan harus selalu waspada terhadap kemungkinan adanya bahaya kecelakaan lalu lintas dan keamanan barang-barang bawaan termasuk uang.
  11. Penempatan jamaah di pemondokan sesuai tasrih (surat ijin tentang kelayakan pemondokan dan jumlah kapasitas yang ditetapkan Pemerintah Arab Saudi).
  12. Setiap kloter diusahakan menjadi satu rumah, namun ada juga kloter yang terpecah, hal ini disebabkan kapasitas rumah tidak sama.
  13. Kondisi kota Makkah berbukit-bukit sehingga gedung yang disewa banyak yang mendaki. Keadaan gedung tidak semuanya sama demikian pula jarak dari Masjidil Haram.
  14. Selama di Makkah jamaah haji diurus oleh maktab dan setiap maktab menampung kurang lebih 2.500-3.000 jamaah haji. Pelayanan yang diberikan antara lain pengurusan administrasi, penempatan di kamar-kamar pada saat tiba, penyediaan air, penyediaan haris (penjaga gedung), tenaga angkut untuk mengangkut barang-barang, pengurusan jamaah haji tersesat jalan, sakit dan wafat, serta bimbingan ibadah.
  15. Setelah seluruh jamaah haji satu kloter menempati kamar-kamar dan istirahat cukup, baru melaksanakan thawaf dan sa'i secara beregu/berombongan dipandu oleh muthawwif/mursyid yang disediakan oleh maktab dikoordinasikan oleh Ketua Kloter.
  16. Kamar tidur jamaah juga digunakan untuk menaruh koper, tas dan sebagainya.
  17. Air untuk wudhu, mandi dan mencuci harus digunakan secara hemat.
  18. Menjemur pakaian di tempat yang telah disediakan dan jangan di lorong.
  19. Selama di Makkah, jamaah tidak memperoleh layanan katering. Gunakanlah biaya hidup (living cost) sebesar SR 1.500,- yang diterima di Asrama Haji untuk kebutuhan makan dan minum. Apabila jamaah haji memerlukan berbagai kebutuhan sehari-hari seperti: beras, gula pasir, mie instan, sayur-mayur, minyak goreng, minyak tanah, kompor, dan sebagainya, tersedia di toko-toko, kios atau warung/restoran disekitar pemondokan.
  20. Makan dan minumlah secara teratur dengan memilih makanan yang bersih, bergizi, dan terlindungi dari pencemaran.
  21. Gunakan masker untuk mencegah masuknya debu dan kuman ke saluran pernafasan ketika berada diluar masjid dan pemondokan.
  22. Jangan menerima tamu dalam kamar karena akan mengganggu yang lain.
  23. Jangan meninggalkan pemondokan berhari-hari karena mengunjungi keluarga.
  24. Tidak diperkenankan merokok di tempat-tempat yang dilarang seperti di dekat Masjidil Haram dan sekitarnya, untuk mencegah kebakaran apabila merokok buanglah puntung rokok pada tempatnya, dan jangan memasak di kamar tidur.
  25. Untuk menghindari tersesat jalan agar memperhatikan letak pemondokan yang ditempati, nomor maktab, dan nomor rumah sebelum berangkat ke Masjidil Haram. Setiap gedung di Makkah dipasang stiker dan neon box merah putih bertuliskan tahun dan nomor rumah.
  26. Mengikuti kegiatan bimbingan ibadah di pemondokan yang diatur oleh petugas kloter.

 

  • Apabila pergi ke Masjidil Haram sebaiknya secara berombongan/beregu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, sebelum berangkat hendaknya mematikan lampu, AC, kompor gas, mengunci koper, dan kamar.
  • Perhatikan rambu lalu lintas dan tengoklah ke kanan dan ke kiri apabila akan menyeberang jalan.
  • Jamaah perempuan yang sedang haid/sakit sebaiknya tinggal di pemondokan ditemani oleh mahram atau temannya yang bisa dipercaya dan mengunci kamar.
  • Di sekitar Masjidil Haram disediakan kamar mandi/WC yang cukup banyak. Jamaah haji agar dapat memanfaatkan kamar mandi baik untuk mandi maupun wudhu.
  • Jangan memaksakan untuk mencium Hajar Aswad dengan cara berdesak-desakan laki-laki dan perempuan, apalagi harus membayar kepada seseorang.
  • Waspada terhadap kemungkinan kehilangan uang dan barang bawaan di tempat yang berdesak-desakan seperti waktu thawaf, dan sa'i, sebaiknya uang dititipkan pada safety box yang ada di Maktab.
  • Jamaah yang akan membayar dan dianjurkan melalui bank yang ditunjukan oleh Pemerintah Arab Saudi (Bank al-Rajhi/Bank Pembangunan Isalm). 
  • Jamaah yang akan melaksanakan tarwiyah, agar melapor kepada ketua kloter dan melakukan koordinasi dengan pihak sektor dan maktab.
  • Tanggal 8 Dzulhijah berangkat ke Padang Arafah untuk melaksanakan wukuf pada tanggal 9 Dzulhijjah dan bagi yang berhaji tamattu' hendaklah berniat ihram haji dari pemondokan.
  • Jamaah haji yang sakit/udzur, keberangkatan ke Padang Arafah diatur tersendiri dengan "Safari Wukuf" sedangkan yang dirawat di Rumah Sakit Arab Saudi (RSAS) diatur sendiri oleh pihak rumah sakit yang bersangkutan.
  • Jamaah haji yang sakit keras (dirawat di ICU) dan tidak memungkinkan secara medis untuk wukuf di Arafah, hajinya dibadalkan oleh petugas haji.
  • Keberangkatan jamaah ke Padang Arafah menaiki bus yang telah disiapkan oleh maktab, dan diatur dengan sistem taraddudi (2 trip), jika bus yang disediakan belum mencukupi, hendaknya bersabar menunggu bus berikutnya.
  • Disunnahkan membaca talbiyah selama perjalanan ke Padang Arafah.
  • Saat akan meninggalkan pemondokan menuju Jeddah/Madinah, hendaklah berhati-hati dengan barang bawaan jangan sampai tertinggal, maksimal barang bawaan 32 kg dan 1 (satu) tas tentengan perjamaah. Kelebihan barang bawaan dapat dikargokan atas biaya masing-masing jamaah.